Pengantar Budaya Politik dan Contohnya

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
budaya politik
Daftar Topik

Kehidupan politik merupakan bagian dari kehidupan keseharian dalam berinteraksi antarwarga negara, pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintahan. Interaksi tersebut menghasilkan bentuk variasi pendapat, pKamungan, dan pengetahuan mengenai perilaku politik dalam segala sistem politik.

Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang memiliki ciri khas, karena meliputi kehidupan masyarakat dalam bernegara, administrasi negara, politik pemerintahan, adat istiadat, hukum, dan norma yang berlaku di masyarakat. Tak hanya itu, ia pun dapat diartikan sebagai sistem bersama suatu masyarakat yang  ikut serta dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan publik.

Bagian-Bagian Budaya Politik

Secara umum, budaya politik terbagi menjadi tiga.

  1. Budaya bergenre politik apatis (tidak peduli dan pasif).
  2. Budya bergenre poltik mobilisasi (sengaja melakukan mobilisasi).
  3. Budaya bergenre politik partisipatif (aktif berpolitik).

Tipe-Tipe Budaya Poltik

  1. Budaya Politik Parokial

Budaya politik parokial memiliki tingkat partisipasi politik yang sangat rendah. Suatu masyarakat dikatakan parokial jika orientasi masyarakat terhadap politik sangat minim atau bisa dikatakan tidak memiliki perhatian terhadap aspek politik.

Umumnya, tipe ini terdapat di pedalaman suku Afrika atau masyarakat pedalaman di Indonesia. Dalam masyarakat penganut budaya ini, tidak ada peran politik yang berperan khusus. Biasanya, kepala suku atau kepala kampung merangkap semua peran dalam masyarakat, baik yang bersifat politis, ekonomis, dan religious. 

  1. Budaya Politik Kaula

Budaya politik ini terdapat pada masyarakat yang tingkat sosial dan ekonominya sudah relatif maju. Akan tetapi, budaya masyarakat terhadap politik masih terbilang pasif. suatu masyarakat dapat dikatakan menganut politik kuala jika frekuensi orientasi terhadap pengetahuan sistem politik terbilang tinggi.

Sikap masyarakat terhadap budaya ini ditunjukkan dengan rasa bangga atau bisa juga malah rasa tidak suka. Masyarakan penganut budaya ini menyadari otoritas pemerintah dan secara efektif mengarahkan masyarakat terhadapa otoritas pemerintah.

  1. Budaya Politik Partisipan

Budaya politik ini ditKamui dengan kesadaran politik yang tinggi. Masyarakat penganut budaya ini mampu secara aktif memberikan pendapatnya dalam berpolitik. Masyarakat penganut budaya ini pun memiliki pemahaman tentang pengetahuan sistem politik. Penganut budaya ini ikut berpartisipasi secara langsung dalam proses politik yang sedang berlangsung.

Budaya Politik di Indonesia

  1. Hirarki Tegar atau Ketat

Sebagian besar masyarakat Indonesia bersifat hirarkis. Strata sosial yang hirarkis terlihat dari adanya pemilahan tegas pengusaha dengan rakyat. Dua tingkatan hirarki ini terpisah oleh tatanan hirarki yang ketat. Pikiran dan sopan santun diekspresikan sesuai dengan kelas masing-masing.

  1. Kecenderungan Potronage

Bentuk hubungan Potronage merupakan kehidupan budaya politik di Indonesia. Bentuk hubungan ini bersifat individual. Dalam kehidupan berpolitik, budaya ini tumbuh pada kalangan pelaku politik. Para pelaku politik cenderung memilih dan mencari dukungan dari atas daripada mencari dukungan dari basis politiknya.

  1. Kecenderungan Neopatrimonisalistik

Neopatrimonisalistik merupakan salah satu kecenderungan politik di Indonesia. Artinya, meskipun memiliki atribut yang bersifat modern dan rasional, seperti birokrasi, tapi perilaku negara masih menganut tradisi dan budaya politik yang mempunyai karakter patrimonial.

Ciri-ciri birokrasi yang menganut neopatrimanisalistik.

  • Ada struktur hirarkis yang memberikan wewenang dari atas ke bawah dalam suatu organisasi.
  • Ada posisi atau jabatan yang mempunyai tanggung jawab yang tegas.
  • Ada aturan, regulasi, dan stKamur yang mengatur kerjanya suatu organisasi dan perilaku anggotanya.
  • Ada personel yang memenuhi syarat dan bekerja atas dasar karier. Promosi yang dilakukan pun berdasarkan pada kualifikasi dan penampilan.

Budaya Politik Indonesia di Lapangan

Setelah mengkaji budaya dalam dunia politik secara ilmiah, kini saatnya mengkaji budaya tersebut dari sisi kenyataan yang ada di lapangan. Di Indonesia, ketika musim pemilu biasanya ramai budaya politik politisi kutu loncat. Jika tanaman sudah dihinggapi kutu loncat, maka tanaman akan hancur. Demikian halnya juga dengan partai politik. Ketika pertai sudah ramai dihinggapi politisi kutu loncat tak diragukan lagi elektabilitas partai pun menjadi menurun.

Tentu menjadi pertanyaan kita, apa yang menyebabkan para politisi menjadikan dirinya seperti kutu luncat? Ada empat hal yang membuat mereka suka pindah partai. Pertama, lantaran merasa sudah tidak dipakai lagi. Kedua, lantaran ada tawaran yang menggiurkan. Ketiga, karena adanya konflik internl. Keempat, lantaran mengikuti petunjuk mimpi.

Sejatinya, gaya politik para politisi kutu loncat menunjukkan bahwa mereka belum menunjukkan dirinya sebagai politisi yang murni memperjuangkan suara rakyat. Mereka asyik dengan mencari keuntungan pribadi. Maka tak heran, bila para politisi kutu loncat ketika pindah ke partai baru malah mencemarkan nama partai. Mereka pun menjadi koruptor. Mereka terkadang terpaksa melakukannya lantaran terikat janji transaksional sejak awal masuk partai tersebut.

Di sinilah kita melihat betapa ironi melihat kader partai yang selama ini membela dan memperjuang partai mati-matian seperti tak dianggap keberadaaannya. Sekiranya pun ada pemiliha calon legeslatif partai, maka para kader partai mendapat nomor urutan sepatu. Sedangkan nomor urut terdepan hanya dimiliki oleh para politisi kutu loncat yang memiliki banyak uang.

Politisi Orde Baru Vs Orde Reformasi

Bila dilihat, politisi orde baru sedikit lebih baik dari orde reformasi. Alasannya, karena politisi orde baru tidak suka dan tidak mudah untuk gonta ganti partai. Sungguh sangat berbeda dengan sekarang. Jika politisi orde baru masih memiliki prinsip, ideologi dan loyalitas. Politsi sekarang sangat sulit sekali yang memiliki prinsip, ideologi dan loyalitas.

Ideologi politisi saat ini tak lagi cenderung mengedepankan kepentingan rakyat, tapi lebih mementingkan kepentingan diri dan partai. Oleh karena itu, sangat jauh sekali perbedaan perilaku politisi di negeri ini dengan perilaku politisi di negara-negara berkembang.

Di negara-negara berkembang, para politisi masuk dunia politik tujuannya adalah untuk pengabdian, membangun bangsa dan negara menjadi lebih baik. Maka wajar jika di negara-negara berkembang perilaku politisi yang melakukan korupsi cukup kecil sekali persen.

Di Indonesia malah sebaliknya, dan ada hal yang lebih aneh juga. Banyak para politisi yang berasal dari artis. Yang jika dilakukan flashback mereka tak memiliki pengetahuan politik. Kemenenangan mereka menjadi calon legeslatif lebih disebabkan kepopuleran artisnya. Sehinga wajar, mereka kurang memiliki kepekaan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. Sehingga kehadiran mereka di parlemen hanya melakukan lima D: datang, daftar, duduk, dengar, dan duit.

Oleh karena itu, rakyat mesti bijak ketika nantinya musim  mendekati pemilu. Jangan sembarang memilih wakil rakyat. Jangan mentang-mentang artis kesayangan, Kamu memilihnya. Padahal, dari sisi ilmu politik tak ada. Jangan mentang-mentang host yang cantik lalu Kamu memilihnya, padahal selama ia menjadi politisi tak pernah terdengar sekali ia memperjuangkan hak rakyat.

Perilaku pragmatis politisi kutu loncat tak hanya terjadi menjelang pemilu, ketika terbuka pemilihan kepala daerah, tak sedikit para artis ikutan menjadi calon. Bila dilihat dari penyampaian orasinya ketika melakukan kampanye sunggun menunjukkan tak ada kelayakannya dalam memimpin. Namun anehnya, cukup banyak rakyat memilihnya.

Ketika sebelum menjadi anggota parlemen atau menjadi kepala daerah, ia selalu mengunjungi warga. Namun ketika sudah menjabat, tak pernah lagi memunculkan wajahnya di hadapan warga. Sungguh, budaya politisi seperti ini sudah sering terjadi.

Rakyat hanya dijadikan kenderaan untuk menyampaikannya menjadi anggota dewan atau kepala daerah. Setelah itu, ia lupa akan janji-janji yang pernah disampaikannya. Yang hanya dipikirkannya, bagaimana ongkos politik yang digunakan saat ingin menjadi anggota parlemen atau kepala daerah bisa kembali. Jika memungkinkan pun, mendapatkan keuntungan.

Inilah yang terjadi di negeri ini. Style para politisi masih cenderung memikirkan kepentingan pribadi. Tak pernah terpikirkan olehnya bagaimana nasib rakyat Indonesia. Ketika tertangkap melakukan korupsi pun tetap saja mereka tak berdosa. Rakyat yang dibuat susah, mereka tetap saja hidup megah di dalam lembaga pemasyarakaatan.

Karena itu, di hukum lantaran korupsi tak membuat mereka jera. Pasalnya, mereka tak merasa seperti orang yang ditahan. Di dalam penjara masih bisa menikmati fasilitas seperti apa yang mereka dapatkan di rumah. Yang kurang dari apa yang mereka alami hanyalah waktu yang tak begitu bebas. Berteleponan atau berinternetan masih bisa dilakukan. Bahkan, menjalankan usahanya pun masih bisa dilakukannya. Sungguh, hukum penjara tak akan membuat para politisi kutu loncat yang ‘kedapatan’ terbukti melakukan korupsi jera. Mereka menganggapnya bagaikan pindah rumah saja.

 

Jihan Ariya
Jihan Ariya
Honestly gak gitu lincah dalam menulis sih, tapi tak apa, yang penting heppy :D
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

ARTIKEL LAINNYA