Kopi Arabika di Hutan Pinus Wilayah Adat Marena Enrekang

0
15920 Hutan Kopi Min

Tanaman Kopi Arabika tumbuh subur pada ketinggian 800-1200 mdpl dan menghasilkan biji-biji kopi yang memiliki aroma tersendiri menyaingi kopi Tana toraja. Petani kopi enrekang di desa Pekalobean kecamatan Anggeraja telah membudidayakan kopi sejak 3 generasi yang lalu. Mereka telah paham secara teknis budidaya dan paska panen, dimana beberapa biji kopi yang kami temukan saat di sana telah dipetik merah. Kemudian biji kopi tersebut digiling untuk mengeluarkan kulit luar. Selanjutnya difermentasi untuk menghasilkan aroma kopi khas pegunungan Enrekang. Biji-biji kopi dijemur dan masuk lagi di penggilingan untuk menghasilkan green bean kopi yang siap sangrai.

Kopi sebagai Penghasilan Para Petani


15920 Biji Kopi Merah
Biji Kopi Merah

Biji kopi yang telah siap sangrai dijual dengan harga yang bervariasi, biji kopi kualitas A di jual dengan harga Rp90.000 per kg, sedangkan asalan masih dijual dengan harga Rp50.000 rupiah per kg pada tingkat petani. Pada tingkat pengumpul di Enrekang, biji kopi jual dengan harga antara Rp100.000 rupiah untuk kualitas Asalan  dan Rp150.000 per kg untuk kualitas A.

Dari penuturan petani kopi di hutan pinus wilayah adat marena, mengaku bahwa setiap tahun mereka bisa memanen kopi sebanyak 1.000 kg grenben per ha. Dengan demikian, jika dihitung dengan harga jual pada tingkat petani, maka penghasilan dari kebun Kopi rata-rata antara Rp50.000.000 – Rp 90.000.000 per tahun per ha.

Pendapatan petani kopi yang tinggi telah menginspirasi sebagian besar masyarakat yang bermukim di sekitar pegunungan Desa Pekaleboan, untuk terus mencari lahan di kaki gunung berbatu dan terjal hanya untuk ditanami kopi jenis arabika.

Manfaatkan Lahan Kopi untuk Memajukan Ekonomi Masyarakat Adat


15920 Jemur Kopi Min
Jemur Biji Kopi

Bahkan di bawah bongkahan batu-batu besar pun masih ditemukan tanaman kopi yang ditanam oleh masyarakat di sana. Kegigihan petani kopi untuk terus membuka lahan tempat budidaya patut kita banggakan, namun juga patut prihatin karena lahan-lahan yang mereka buka memiliki kemiringan 45% bahkan 65%.

Pada daerah-daerah yang memiliki kemiringan di bawah 45% mereka tanami bawang merah dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan dari hasil tanaman bawang merah pun telah menambah pendapatan yang tidak sedikit dan hanya dalam waktu 56 hari mereka telah memanen tanaman bawang mereka.

Belajar dari pengalaman petani kopi di pegunungan Enrekang yang gigih ulet dan berani maka tidak ada salahnya petani-petani yang berada pulau sulawesi lainnya (tinggal pada ketinggian 600 – 1000 mdpl) untuk memulai membudidayakan berbagai jenis kopi terutama jenis kopi Arabika.

Semoga kopi yang berasal dari perkebunan rakyat, terutama kopi dari wilayah hutan adat akan mampu bersaing di pasar dalam negeri dan internasional. Dengan begitu, masyarakat adat tidak lagi menjadi simbol kemiskinan, simbol tertinggal dan marginal untuk selalu diberdayakan. Suatu saat nanti masyarakat adat akan menunjukan dirinya sebagai masyarakat adat yang maju dan berdaya saing.

 Semoga Bermanfaat!