Kenal Lebih Jauh tentang Cochlear Implant Yuk!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
cochlear implantss
Daftar Topik

Gangguan pendengaran dapat dialami oleh semua orang. Semua segala golongan usia. Gangguan pendengaran pada anak tak hanya menghadirkan kesunyian dalam hidup sang anak. Juga dapat mengganggu perkembangan kemampuan bahasa dan bicaranya. Kini permasalahan tersebut mulai teratasi berkat kehadiran Cochlear Implant. Secara harfiah kita kenal sebagai alat bantu dengar.

Cochlear Implant biasanya dipasang dalam rumah siput (koklea). Fungsinya sebagai perangsang saraf pendengaran dan menggantikan sebagian fungsi rumah siput dalam menangkap dan meneruskan gelombang suara ke otak. “Gangguan pendengaran dengan jenis tuli saraf atau Sensorineural Deafness merupakan jenis gangguan pendengaran yang dapat dibantu dengan menggunakan Cochlear Implant,” tutur Dr. Sosialisman, Sp.THT – KL, RS Pantai Indah Kapuk.

Namun, penderita pendengaran pun tak seluruhnya dapat dinyatakan layak sebagai pengguna Cochlear Implant. Anak usia 12 bulan sampai dengan 17 tahun yang mengalami tuli saraf sejak lahir. Juga orang dewasa yang mengalami tuli saraf berat. Tapi bagi yang disebut post lingual, yakni dengan catatan pernah mengenal suara atau mengetahui bahasa sebelumnya. Inilah kelompok penderita gangguan pendengaran yang dinyatakan layak menggunakan Cochlear Implant.

“Pengguna Cochlear Implant pada penderita gangguan pendengaran memerlukan beberapa tahapan proses seperti operasi sebagai tindakan pemasangan elektroda ke dalam rumah siput yang merupakan tahapan awal setelah dilakukan serangkaian metode pemeriksaan pada pasien,” ungkap Dr. Sosialisman, Sp.THT – KL.

Tahapan yang Harus Dilalui sebelum Menggunakan Cochlear Implant


Setelah melakukan tahapan awal yakni operasi, luka oper asi atau pembedahan dinyatakan sembuh barulah ditambahkan pemasangan alat tambahan (prosesor). Tahapan ini biasa disebut dengan switch on. Setelah itu agar mendapatkan hasil yang maksimal maka dilakukan pula proses pemetaan (mapping) dan habilitasi. Pemetaan (mapping) diartikan sebagai proses komputerisasi guna menyesuaikan suara yang diterima oleh setiap pengguna Cochlear Implant.

Mapping dilaksanakan secara bertahap untuk melakukan penyesuaian fungsi alat agar sejalan dengan perkembangan kemampuan mendengar dan bicara pasien. Habilitasi sendiri adalah proses pelatihan bagi pengguna Cochlear Implant agar memperoleh manfaat terbaik dari alat ini. Habilitasi dilakukan secara bertahap dengan teknik auditori-verbal yang berfokus pada kemampuan mendengar pasien.

Putri
Putri
SEO Content "Wherever life plants you, bloom with grace."
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

ARTIKEL LAINNYA