Inilah yang Terjadi Jika Melakukan Tindakan Korupsi!

Semakin hari, orang yang berbuat jahat semakin banyak. Mereka seakan tidak peduli seperti apa nasib orang lain atau diri mereka sendiri di kemudian hari. Kejahatan seperti tidak pernah habis menghantui penduduk dunia. Dari kejahatan kecil seperti mencuri sandal, baju, barang di supermarket, sampai dengan kejahatan berat seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan korupsi.

Ya. Kejahatan yang disebutkan paling akhir itu adalah yang paling merajalela, apalagi di Indonesia. Entah mengapa banyak sekali orang yang melakukan kejahatan dalam bentuk mencuri tersebut. Padahal, jika dilihat, yang melakukan aksi kejahatan itu kebanyakan orang-orang besar yang notabene memiliki banyak uang.

Mengapa mereka harus merampas uang rakyat dan uang siapa saja yang bukan miliknya, demi kepentingan sendiri? Apakah memang mereka sangat bergantung kepada harta dan takut kehilangannya sehingga berani mencuri uang orang lain dalam jumlah yang banyak? Apakah harta berlimpah yang mereka miliki, belum cukup untuk membeli mobil, rumah, alat elektronik mewah?

Mungkin memang mereka akan merasa senang bisa memiliki banyak uang. Namun, kesenangan itu tidak akan berlangsung lama. Suatu saat, mereka akan dimintai pertanggungjawaban, dari masyarakat, pengadilan, sampai Tuhan.

Koruptor dengan Segala Jenis Hukumannya


Ada banyak cara untuk menghukum orang-orang yang melakukan suatu kejahatan. Apalagi untuk para koruptor, ada banyak cara menghukum mereka. Sebut saja dipenjara seumur hidup, dipotong tangannya, dan dihukum mati.

Hukuman para pencuri dengan cara memotong tangan sudah sering dilakukan di negara-negara Timur Tengah. Mungkin karena di sana menganut hukum Islam, sehingga hukum memotong tangan sudah menjadi tradisi untuk menghukum pencuri atau koruptor.

Dalam Islam, memang hukum seperti itu diperbolehkan karena di akhirat nanti mereka juga akan mengalaminya. Salah satu hukuman itu diterapkan di Negara Iran. Pemerintah Iran memang sudah menerapkan hukum Syiah untuk para pelaku korupsi. Untuk memudahkan pemberian hukuman, Iran bahkan sudah memiliki mesin otomatis pemotong tangan.

Dalam sebuah halaman website ada foto seorang tahanan Iran yang sedang ditutup matanya. Dia dibawa oleh tiga orang mengenakan topeng dan baju berwarna hitam. Terlihat di depan si pria itu ada sebuah mesin, mesin itu digunakan untuk memotong jari pria tersebut.

Pria ini adalah pelaku pencurian (sama saja dengan koruptor) dan kasus pemerkosaan. Selain menjalani hukuman potong tangan atau jari, dia juga dipenjara selama 3 tahun, dan hukum cambuk sebanyak 99 kali. Walaupun sudah dipotong, tapi si tahanan tidak menunjukkan ekspresi kesakitan. Mungkin sebelumnya, dia sudah dibius terlebih dahulu dengan bius lokal.

Setelah diamputasi jarinya, dalam sebuah foto lagi, tangan dia sudah tidak memiliki 4 jari, yang tersisa jempolnya saja. Hukuman tersebut dilakukan karena ada banyak sekali kejahatan di sana. Mungkin kah hukuman seperti itu diterapkan di Indonesia juga?

Memang terlihat menyeramkan, namun memang demikian lah hukuman yang seharusnya diberikan kepada para penjahat, khususnya pencuri atau koruptor.

Di Indonesia, sudah ada gagasan dari salah satu organisasi Islam terbesar Indonesia, Nahdlatul Ulama untuk memotong tangan para koruptor. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia di Jawa Tengah sudah mendukung adanya hukuman tersebut. Ketua umumnya malah meminta supaya hukuman potong tangan dimasukkan ke dalam perundangan-undangan.

Menurutnya, hukuman itu memang pantas dilakukan untuk menghukum para koruptor. Dalam Al-Quran saja ada ayat yang memerintahkan untuk memotong pencuri wanita atau laki-laki. Namun, pencurian itu dalam kadar tertentu.

Di Indonesia sudah ada Pancasila yang sudah tidak bisa diubah lagi. Meski demikian, sudah ada perundang-undangan yang menerapkan hukum Islam bagi perkawinan, perwakafan, dan sebagainya. Lalu, mengapa tidak ada hukum Islam untuk menghukum para pencuri dan koruptor? Kenapa setengah-setengah dalam menerapkan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari? Alasan kemanusiaan?

Memotong tangan dinilai tidak manusiawi? Lantas, apakah memakan uang yang bukan haknya juga adalah tergolong perbuatan yang manusiawi?

Bagaimana dengan hukuman gantung atau pancung? Sepertinya, kedua hukuman ini pantas-pantas saja diberikan kepada para koruptor. Jika dilihat, sekarang hukum itu semakin mudah dijalani bagi para koruptor. Ada kalanya mereka yang mencuri dalam jumlah besar mendapatkan hukuman lebih ringan daripada yang mencuri sandal, beberapa butir kakao, dan pencurian kecil lainnya.

Bahkan para koruptor tersebut dihukum dengan waktu yang sangat singkat, dipotong masa tahanan, didenda dengan jumlah yang sedikit, dan harta bendanya tidak disita. Sudah jelas bahwa itu bukan barang yang dibeli dari uang mereka sendiri.

Mungkin karena kehabisan ide supaya bisa menghentikan budaya korup, hukuman mati bisa jadi pantas ditegakkan di Indonesia. Di negara lain, biasanya orang yang dihukum mati dibawa ke tengah lapangan yang luas. Sambil disaksikan oleh banyak orang, mereka diadili di sana. Lupakan HAM terlebih dahulu, sebab koruptor juga menghilangkan HAM orang banyak.

Setelah menjalani hukuman mati, semua harta yang bukan miliknya harus dirampas dan dimasukkan ke dalam APBN. Tentu, karena kekayaan yang diambil itu harta milik orang lain. Oleh sebab itu, perlu adanya penghitungan jumlah kekayaan tersangka.

Cara mengetahui kekayaan yang tidak halal, bisa dinilai dari harta bergerak, misalnya kendaraan, tabungan, dan deposito. Tidak lupa harta yang tidak bergerak, seperti rumah, dan tanah. Jumlah kan berapa nominalnya. Setelah itu, bandingkan gaji sebelum menduduki jabatan dan sesudahnya.

Apabila jumlah harta mereka lebih banyak dari seharusnya, berarti dia terbukti melakukan perbuatan mencuri tersebut.

Untuk melaksanakan hukum pancung dan gantung, harus dibuat undang-undang baru karena sebelum ada UU tersebut. Namun, sepertinya sulit untuk membuat undang-undang seperti itu di Indonesia. Bila dilihat, banyak juga anggota DPR dan pemerintah yang melakukan kasus ini.

Pasti banyak yang tidak setuju karena berarti mereka harus mengorbankan teman mereka yang melakukannya. Bahkan, mungkin si pembuat UU juga melakukan tindakan serupa.

Mungkin tindakan lain yang bisa menghilangkan sedikit demi sedikit koruptor adalah memilih anggota DPR baru. Rakyat yang akan memilih anggota DPR baru jangan memilih orang sama yang telah melakukan tindakan mencuri. Jangan beri mereka kesempatan lagi, pilih lah orang yang benar-benar baru dan bersih tentunya.

Korupsi di Indonesia Peringkat Ke-Berapa ya?


Meskipun ada banyak kasus di Indonesia pada 2012 yang lalu, ternyata posisi Indonesia sebagai negara terkorup dunia menurun. Salah satu unit kerja yang percaya bisa menurunkan peringkat Indonesia dalam kasus ini adalah Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan.

Indonesia meski sedikit bangga dan bersyukur bahwa peringkat Indonesia sebagai negara terkorup turun. Namun, kamu jangan puas karena turunnya peringkat tersebut hanya 18 nomor saja. Pada tahun 2011, Indonesia ada pada peringkat ke 100, sedangkan pada tahun 2012 ada di nomor 118 dari seluruh negara dunia.

Badan tersebut juga membuat sebuah indeks persepsi korupsi 2012. Index pada tahun ini menunjukkan angka 32, setelah pada tahun 2011 di peringkat 2,8. Adanya konflik antara Polri dan KPK dirasa salah satu faktor penurunan index. Walaupun tingkat korup masih terlampau tinggi, masyarakat Indonesia mendukung gerakan anti korupsi.

Hasil survei menunjukkan dari 5 skor, nilai Indonesia ada pada 3,55 skor. Dari hasil tersebut bisa dijelaskan bahwa di Indonesia, masyarakatnya adalah masyarakat yang antikorupsi. Ya, mudah-mudahan saja peringkat Indonesia akan lebih menurun lagi dari segi negatifnya. Namun, sisi positif harus lebih berkembang.

Diharapkan ada upaya nyata dari pemerintah untuk menghilangkan kasus korupsi dari Indonesia. Dengan berkurangnya kasus, tentunya rakyat Indonesia yang ada di garis kemiskinan sedikit lebih sejahtera. Oleh karena, banyaknya uang milik negara, berarti menjamin kehidupan masyarakatnya.

Semoga saja para koruptor akan kapok dan tidak akan mengulangi aksinya. Dan bagi pihak yang tidak pernah korupsi, semoga tidak akan pernah melakukannya. Pemberian hukuman kepada koruptor kalau bisa lebih berat agar angka pejabat atau siapa saja yang berbuat jahat semakin menurun.

Tags: