3 Jenis Decoder dan Fungsinya, Wajib Diketahui!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
1. Decoder 2 ke 4
Daftar Topik

Decoder, merupakan suatu rangkaian yang mampu mengubah kode ke bentuk satu set sinyal. rangkaian ini memegang peran yang sangat penting dalam proses proyek elektronika digital karena menjadi salah satu teknik memindahkan data dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Nama decoder sendiri merujuk pada fungsinya yang merupakan kebalikan dari pengkodean alias encoder. Decoder merupakan rangkaian kombinasi dengan jalur input ‘n‘ dan jalur output maksimum 2n. Saat diaktifkan, salah satu jenis dari output ini akan berubah menjadi “Aktif Tinggi“ yang didasarkan pada kombinasi input yang ada.

Jenis-jenis decoder

Secara sederhananya, decoder adalah sebuah rangkaian yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi kode-kode tertentu. Sementara output dari rangkaian ini ialah syarat minimum baris variabel input ‘n‘ saat diaktifkan. Terdapat beberapa jenis dengan fungsi yang beragam. Jenis-jenis ini dibedakan berdasarkan jumlah input dan output yang dimiliki. Tertarik untuk mengetahui jenis-jenis decoder serta fungsinya? Berikut penjelasan lengkapnya. 

1. Decoder 2 ke 4

1. Decoder 2 ke 4

Jenis ini merupakan rangkaian dengan fitur 2 input dan 4 output. Misalkan jika 2 input diberi kode A1 dan A0, serta 4 output diberi kode Y3, Y2, Y1 dan Y0, maka diagram blok jenis 2 ke 4 ini dapat digambarkan sebagai berikut. Ada 1 produk untuk setiap output, sehingga bila ditotal terdapat 4 produk dengan penggunaan empat gerbang AND yang memiliki masing-masing sejumlah 3 input dan dua inverter. Oleh sebab itu, output yang dihasilkan decoder adalah “min terms“ yang merupakan hasil dari dua variabel input A1 dan A0. Ketika aktif, E adalah 1, sementara jika tidak diaktifkan maka E adalah nol. Jika begitu, maka seluruh output ini adalah sama dengan nol. 

2. Decoder 3 ke 8

2. decoder 3 ke 8

Jika rangkaian 2 ke 4 memiliki 2 input dan 4 output, maka seperti namanya, rangkaian 3 ke 8 memiliki 3 input dan 8 output. Jenis ini dapat dirancang dengan menggunakan rangkaian 2 ke 4, menggunakan rumus berupa jumlah output yang lebih rendah dibagi dengan jumlah output yang lebih tinggi. Rumus ini digunakan ketika merancang yang lebih tinggi dengan memakai decoder yang lebih rendah. Secara sederhananya, pada jenis 3 ke 8, M1-nya berjumlah 4 dan M2-nya adalah 8. Dengan menggunakan rumus tersebut, maka dapat dihitung dan hasilnya adalah 2. Artinya, diperlukan jumlah pengatur urutan yang lebih rendah alias decoder 2 ke 4 sebanyak 2 buah untuk merancang sebuah decoder 3 ke 8. Pada jenis ini, input paralel A1 dan A0-nya diterapkan untuk setiap jenis 2 ke 4. Untuk mendapatkan output, komplemen input A2 dihubungkan secara aktif atau E dengan decoder 2 ke 4 bagian bawah yakni Y3 sampai Y0, sehingga menghasilkan 4 min terms rendah. Untuk 4 min terms tinggi, maka input A2 terhubung secara aktif, E dari jenis 2 ke 4 bagian atas dengan output Y7 ke Y4. 

3. Decoder 4 ke 16

3. Decoder 4 ke 16

Sama seperti jenis sebelumnya, untuk merancang sebuah jenis 4 ke 16 dapat menggunakan jenis 3 ke 8. Untuk menghitung berapa banyak jenis 3 ke 8 yang dibutuhkan untuk merancang sebuah decoder 4 ke 16, maka dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang sama yakni M2/M1. Maka, M2 sejumlah 16 dan M1 sejumlah 8 bila dibagi akan menghasilkan angka 2, artinya dibutuhkan sebanyak 2 buah decoder yang jenisnya lebih rendah atau dengan kata lain butuh 2 buah jenis 3 ke 8 untuk merancang jenis 4 ke 16. Jenis 3 ke 8 memiliki tiga buah input yakni A2, A1 dan A0, serta delapan output yaitu dari Y7 ke Y0, sementara jenis 4 ke 16 memiliki 4 input dari A3 sampai A0 dan 16 output dari Y15 hingga Y0. Input paralel dari A2 sampai A0 diterapkan pada masing-masing jenis 3 ke 8. 8 min terms rendah didapatkan dari komplemen input A3 yang terhubung aktif pada E dari jenis 3 ke 8 bagian bawah untuk mendapat hasil berupa output Y7 hingga Y0. Sementara bila input A3 terhubung aktif, E dari decoder 3 ke 8 bagian atas menghasilkan output Y15 hingga Y8 yang merupakan 8 min terms tinggi. 

Decoder ini dapat diaplikasikan pada beberapa hal yang sifatnya praktis dan fungsional. Seperti misalnya pada komunikasi nirkabel, dimana keamanan data merupakan salah satu aspek prioritas yang diperhatikan. Pada komunikasi nirkabel, decoder memegang peran penting dalam aspek keamanan komunikasi data yakni dengan membangun enkripsi standar dan juga algoritma dekripsi. Hal ini sangat berguna untuk privasi pengguna, dimana pihak ketiga tidak dapat mencuri data yang terkirim dalam proses komunikasi karena sudah ter-enkripsi.

Selain komunikasi nirkabel, decoder juga digunakan dalam sistem audio. Disini, memiliki fungsi untuk mengubah audio jenis analog, menjadi data digital. Ini sangat membantu para pelaku industri kreatif digital karena dapat menggunakan aneka ragam audio analog yang diubah menjadi data digital. Decoder juga dapat digunakan sebagai sebuah dekompresor, yakni alat yang dapat mengubah data yang telah terkompresi seperti misalnya file gambar, audio, ataupun video, dalam bentuk dekompresi. Pada komputer, kerap digunakan juga sebagai rangkaian elektronik yang bertugas mengubah instruksi komputer untuk menjadi sinyal kontrol di CPU. 

Baca juga:

Apa itu Serat Optik? Berikut Penjelasannya

septirm
septirm
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

ARTIKEL LAINNYA