Home Editor's Choice Edukasi Buku Nonfiksi Keren yang Wajib Kamu Baca

Buku Nonfiksi Keren yang Wajib Kamu Baca

0
Buku Nonfiksi Keren yang Wajib Kamu Baca

Dimana kita bisa membeli buku-buku nonfiksi terbaik? Lalu, apa saja judul buku-buku tersebut? Sudah tak terhitung lagi jumlah buku berjenis non fiksi yang terbit tahun ini. Dari genre ilmiah, berikut ini buku-buku terbaik yang sangat layak untuk dibeli, dijadikan rekomendasi, serta dijadikan koleksi di rumahmu.

Iron Curtain: The Crushing of Eastern Europe 1944-1956 (Anne Applebaum)


Iron Curtain: The Crushing of Eastern Europe 1944-1956 adalah buku berjenis non fiksi terbaik 2012. Inilah buku sejarah karya Anne Applebaum, seorang penulis pemenang Pulitzer dengan karya berjudul Gulag. Penulis ini kembali lagi menyuguhkan sebuah inovasi sejarah lewat bukunya berjudul Iron Curtain. Buku ini memaparkan bagaimana komunisme mampu mengambil alih kawasan Eropa Timur setelah Perang Dunia II dan juga mengubah dunia.

The Passage of Power: The Years of Lyndon Johnson, Vol. Four (Robert A. Caro)


Buku yang keempat dari seri biografi presiden Amerika Serikat ke-37, Lyndon Johnson, ini merupakan salah satu karya paling dinanti-nantikan. Buku ini berkisah seputar peran Johnson yang menjabat sebagai wakil presiden dan diakhiri dengan dipilihnya Johnson menjadi presiden Amerika Serikat setelah John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat sebelumnya, dibunuh.

Far from the Tree (Andrew Solomon)


Andrew Solomon adalah seorang penulis yang sering menulis bertemakan budaya, politik, dan juga psikologi. Pada 2012 lalu, ia menulis sebuah buku berjudul Far from the Tree, buku tentang keluarga-keluarga yang berjuang dengan anak-anak penderita autisme, ketulian, skizofrenia, dan lain sebagainya. Lewat karya ini, Andrew Solomon, ingin memberi pesan kepada semuanya tentang pencarian identitas, tak hanya dilakukan oleh anak, tetapi juga orangtua yang mempunyai kehidupan lebih normal.

My Friend Dahmer (Derf Backderf)


Secara tak terduga, Derf Backderf, ternyata mengenyam pendidikan di sekolah yang sama dengan Jeffrey Dahmer dan akhirnya menjadi pembunuh berantai juga kejam. Bahkan, mereka berdua saling berteman. Lewat memoar grafisnya, Derf Backderf membuat potret Jeffrey Dahmer yang sangat tragis sebagai anak terasing dari keluarga berantakan.

Are You My Mother? (Alison Bechdel)


Penulis sekaligus seniman dari komik Dykes to Watsh Our Forini menulis memoar pertama kali pada 2006 lewat buku berjudul Fun Home, memoar grafis bercerita tentang ayahnya yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dan bercerita tentang hubungannya dengan ayahnya tersebut.

Di buku Are You My Mother, Alison Bechdel lebih fokus pada ibunya, seorang penulis sekaligus aktris yang karirnya tak berjalan lancar. Alison Bechdel menguak hubungan yang sangat rumit antara ibu dan anak ini secara kreatif.

Wild (Cheryl Strayed)


Sesudah ditinggal pergi ibunya karena penyakit kanker dan juga harus berjuang melawan ketergantungan obat, Cheryl Strayed akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaki Pacific Crest Trail, sebuah tantangan yang diharapkan bisa menjauhkan dirinya dari kehancuran hidup. Ia merupakan seorang pendaki yang harus banyak berhadapan dengan kesulitan selama pendakiannya. Tapi, memoarnya ini tak hanya berkisah seputar pendakian yang mengubah hidupnya, tetapi juga ingatan tentang kehidupan dan juga kematian ibunda tersayang.

Dearie: The Remarkable Life of Julia Child (Bob Spitz)


Hanya sedikit manusia yang bisa mengubah kepercayaan, perilaku, dan budaya orang Amerika. Terlebih, manusia yang mengubahnya ini adalah sosok perempuan paruh baya dengan tubuh besar dan tinggi lebih dari dua meter, yaitu Julia Child. Wanita ini sudah mampu mengubah cara rumah tangga di Amerika Serikat makan serta memasak makanan mereka. Lewat buku Mastering the Art of French Cooking, Julia Child mampu mengubah budaya memasak di Amerika. Dalam hal ini, Bob Spitz menyajikan sisi baru dari Julia Child yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

People Who Eat Darkness (Richard Lloyd Parry)  


Saat musim panas pada 2000 lalu, Lucie Blackman, seorang perempuan Inggris berusia 21 tahun dan bekerja menjadi pegawai di sebuah bar di Tokyo, menghilang secara tiba-tiba. Lalu, seorang wartawan untuk Times di London bernama Richard Lloyd Parry menceritakan kejadian kriminal yang sangat mengerikan tersebut sekaligus mengungkap keanehan warga Jepang dengan cukup memukau (sikap kepada orang asing, politik yang rasis juga mempunyai segi seksualitas, budaya kepolisian, dan juga media).

The First Four Notes: Beethoven’s Fifth and the Human Imagination (Matthew Guerrieri)


Matthew Guerrieri, seorang kritikus musik, secara cerdas kembali lagi ke era-era sebelum Beethoven, untuk mengungkap apa yang sudah mempengaruhi Beethoven saat menulis Simfoni No. 5. Kemudian, Guerrieri kembali lagi ke masa kini untuk menerangkan bagaimana karya Beethoven tersebut sudah mampu memengaruhi musik yang didengar kini. Guerrieri pun telah mengkonfirmasikan sesuatu yang bertolak belakang dengan kepercayaan umum, yaitu Beethoven tidak tuli saat membuat Simfoni No. 5.

The Black Count: Glory, Revolution, Betrayal, and the Real Count of Monte Cristo (Tom Reiss)


Lewat buku The Black Count: Glory, Revolution, Betrayal, and the Real Count of Monte Cristo, kita semua akan diajak mengenal Jenderal Alex Dumas, ayah dari Alexandre Dumas, yang terkenal sebagai seorang penulis terkenal dengan karya berjudul The Count of Monte Cristo dan The Three Musketeers.

Jenderal Dumas merupakan anak dari kalangan bangsawan Prancis dengan wanita budak berasal dari Haiti. Dirinya pun dikenal karena keberanian, kekuatan, dan juga ketampanannya. Selain itu, orang ini pun ikut memainkan peran penting di dalam Revolusi Perancis.

Catatan Seorang Demonstran


Buku ini dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran dari almarhum Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI. Buku Catatan Seorang Demonstran ini disusun dengan mengumpulkan karya-karya tulisan Soe Hok Gie di jurnal harinnya dan berbagai tulisannya di koran nasional. Catatan Seorang Demonstran sangat menarik dibaca dan wajib dibeli. Dengan penggambaran dirinya sebagai tokoh mahasiswa di era Orde Lama, Soe Hok Gie mampu membawa kita semua menyelami kehidupan rakyat Indonesia pada masa 1960-an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here