Stoisisme Era Millenial dalam Buku Filosofi Teras

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
stoisisme-filosofi-teras
Daftar Topik

Buku Filosofi Teras – Salah satu cara belajar filsafat yang paling mudah ialah dengan melalui buku. Selama beberapa tahun ini, ada salah satu buku filsafat dari penulis lokal yang menarik minat kaum milenial. Judulnya Filosofi Teras, karya Henry Manampiring yang akrab dipanggil Om Piring.

Saking disukainya, buku ini dinobatkan sebagai Book of The Year di Indonesia International Book Fair 2019. Dengan penjualan mega best seller di seluruh penjuru Indonesia.

Fakta Menarik Buku Filosofi Teras

stoisisme

Selain kentalnya stoisisme, buku ini juga mengajak kita untuk menyoroti kehidupan masa kini. Yang penuh dengan beberapa hal yang dapat mempengaruhi diri manusia secara negatif. Semuanya akan dibahas dengan lengkap pada ulasan di bawah ini.

Informasi Umum dan Sinopsis

sampul-filosofi-teras

Informasi Umum

Judul: Filosofi Teras

Nama Pengarang: Henry Manampiring

Tahun Terbit: 2018

Penerbit: Kompas

Jumlah Halaman: 346 halaman

 Sinopsis

Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan.

Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

Makna Stoicims dalam Filosofi Teras untuk Anak Muda

stoisisme-filosofi-teras-untuk-millenial

Buku ini ada berdasarkan pengalaman sang pengarang dalam menghadapi emosi negatif di kesehariannya. Vonis yang dikatakan psikiater saat Om Piring berkonsultasi ialah dia terkena Major Depressive Disorder.

Salah satu hal yang membuatnya semakin negative thinking adalah stigma depresi sama dengan gila yang beredar di Indonesia. Sampai suatu saat dia berkenalan dengan buku karya Mossimo Pigliucci, How To Be a Stoic yang berisi cara mempraktikkan stoisisme. Di sana lah, dia menemukan dirinya yang lebih tenang dalam menghadapi pikiran dan juga emosi negatif.

Garis besarnya, filosofi stoa (filosofi teras atau stoisisme) telah ada sejak zaman Yunani Kuno. Filosofi ini lahir berkat pandangan Epictetus. Ia percaya bahwa “dalam kehidupan ini, ada beberapa hal yang ada di dalam kendali kita, ada juga beberapa hal yang ada diluar kendali kita”.

Epictitus juga memiliki pemikiran yang menarik tentang hal yang membuat manusia menderita. Yaitu penilaian yang negatif terhadap penderitaan daripada penderitaan itu sendiri.

Ada juga Marcus Aurelius yang menerapkan meditasi dalam kesehariannya. Panglima perang itu juga memberikan panduan tentang pentingnya mengendalikan respon. Ia percaya bahwa merespon sesuatu dengan negatif dapat merugikan diri sendiri dan juga alam.

Dari sudut pandang itu lah, buku Filosofi Teras hadir sebagai bekal generasi muda untuk menghadapi dunia. Yang sesak, penuh dengan standar ganda, dan juga hal-hal yang dapat memberikan pengaruh negatif lainnya.

Stoisisme mengajarkan untuk bahagia secara sederhana, juga berfokus pada hal-hal yang kita punya dan kita dapat kendalikan di masa kini. Kita juga akan diberi wawasan lebih lanjut tentang menghadapi hal-hal yang tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Seperti ras, orang tua, jenis kelamin, hingga cuaca sampai kemacetan di jalan raya.

Untuk mengimbanginya, kita juga dapat memaksimalkan hal yang sepenuhnya bisa kita kendalikan. Seperti opini, pikiran, tujuan, keinginan dan tindakan yang kita lakukan. Kita juga kembali dapat menerima bahwa ada hal yang hanya bisa kita usahakan dan kendalikan sebagian. Seperti kekayaan serta kesehatan.

Dalam penerapannya, hal yang paling mendasar dari filosofi ini ialah cara kita mengendalikan ketiganya untuk mencapai keseimbangan. Nantinya, keseimbangan ini lah yang memberikan efek penenang dan kesembuhan pada kecemasan manusia.

Buku ini dinilai cocok untuk digunakan sebagai pintu gerbang ilmu filsafat yang anti ribet oleh generasi milenial. Stoisicm yang mengajarkan tentang ketenangan batin, cocok untuk di era digital masa kini. Juga di masa quarter life-crisis yang umum dirasakan anak muda usia 20 tahunan. Yang mulai sering membandingkan pencapaian dirinya sendiri dan orang lain.

Dengan bahasa yang akrab, lugas dan asyik, Henry dapat merangkum semua inti stoisisme dengan baik. Ajakan praktik stoisismenya juga diperkuat dengan beragam wawancara yang dilakukannya dengan para penganut padangan ini. Menariknya, semua anak muda dapat semakin mudah untuk menerapkan dalam kehidupan.

Buku Filosofi Teras dan buku menarik lainnya bisa kamu dapatkan di elevenia. Nikmati juga ragam promo harian menarik lainnya. Di elevenia, semua yang kamu cari, ada. 

risti.habibie
risti.habibie
Hobi nulis, rebahan, mengkhayal dan coret-coret. Pokoknya apa aja deh yang bisa ngilangin gabut~
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

ARTIKEL LAINNYA

PEMESANAN:

Beras Organik RICE ME UP