Biografi RA Kartini Sang Pelopor Emansipasi Wanita

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
21420-ra kartini 3
Daftar Topik

RA Kartini adalah salah seorang dari banyaknya wanita yang menjadi tonggak perjuangan kemerdekaan dan kebangkitan perempuan pada masa itu. sampai saat ini siapa yang tidak kenal dengan kiprah beliau melawan diskriminasi yang dilakukan kepada para perempuan. RA Kartini adalah seorang wanita dengan pendidikan tinggi yang memperjuangkan emansipasi wanita. Oleh sebab itu, mempelajari biografi RA Kartini menjadi suatu hal yang menarik. Mulai dari kelahiran, pendidikan, sampai kiprahnya dalam melawan penjajah.

Biografi RA Kartini


Saya kira banyak orang yang sudah mengetahui kapan Kartini ini lahir. Iya, beliau lahir di Jepara tanggal 21 April 1879. Sampai saat ini hari kelahiran beliau masih sering diperingati sebagai hari kartini, dimana memang digunakan untuk menghormati dan menghargai jasa beliau. Keluarga Kartini bukanlah orang biasa, namun orang tuanya adalah termasuk bangsawan Jawa yang dihormati, sehingga gelar RA yang ada di sebelum namanya merupakan gelar dari keluarga tersebut.

RA KArtini merupakan seorang putri dari pasangan suami istri Raden Adipati Sosroningrat dan Ibu MA Ngasirah. Ayah dari Kartini sendiri memiliki banyak istri dengan ibunya yang berkedudukan sebagai istri pertama, meski begitu MA Ngasirah bukanlah istri prioritas dari ayahnya. Di masa penjajahan Belanda, ada ketetapan bahwa seorang bangsawan haruslah menikahi bangsawan pula. Padahal pada saat itu ibu dari Kartini bukanlah seorang bangsawan, namun seorang anak kyai di Telukawur, Surabaya.

Kartini adalah anak kelima dari 11 bersaudara yang pernah bersekolah di ELS sampai menginjak usia 12 tahun, kemudian dia pun melanjutkan belajar bahasa Belanda. Namun pada usia 15 tahun, Kartini mulai dipingit, dan diantara kejenuhannya ia menulis surat kepada teman korespondensi Belanda. Maka semenjak itu, Kartini mulai tertarik dengan pemikiran Eropa, sehingga dia pun mempelajari banyak hal dari berbagai surat kabar, majalah, sampai buku. Dari hasil membaca itulah, RA Kartini mulai memiliki pemikiran untuk mengubah pola pikir wanita yang pada saat itu memiliki status sosial yang rendah dan dianggap terbelakang.

Pada usia 20 tahun, RA Kartini diketahui semakin sering membaca buku dengan bahasa Belanda, sehingga pengetahuannya tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan semakin mumpuni. Dia pun mulai focus untuk memperjuangkan emansipasi wanita dan mulai membandingkan pola pikir wanita Eropa dengan wanita Indonesia. Menurut biografi RA Kartini sendiri, setiap perempuan adalah sama dalam kebebasan, otonomi, dan kesetaraan hukum.

Pernikahan dan Wafatnya RA Kartini


Pada usia 24 tahun, RA Kartini menikah dengan seorang bangsawan pula, dia bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang pada saat itu telah memiliki 3 istri. Dengan menikahnya RA Kartini nama Raden Ajeng diubah menjadi Raden Ayu. Meski begitu, sang suami tetap mendukung segala bentuk pemikiran Kartini, dan membebaskannya untuk mendirikan sekolah emansipasi wanita, yang saat ini telah menjadi gedung Pramuka.

Sekolah Kartini mulai berdiri pada tahun 1912 di Semarang dan seiring bergantinya tahun demi tahun, banyak sekolah yang didirikan, mulai dari di Malang, Yogyakarta, Cirebon, Madiun, dan beberapa daerah lainnya.

Wafatnya Kartini menjadi awal pertama bagi menteri Kebudayaan saat itu memulai pengumpulan berbagai surat yang ditulis oleh Kartini kepada teman Eropanya. Banyaknya surat yang dikumpulkan kemudian dijadikan sebuah buku yang diberi judul menggunakan bahasa Belanda “Door Duisternis tot Licht”, yang saat ini kita kenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang.

Setelah buku yang berisi surat RA Kartini kepada teman Eropa ini terbit. Pandangan orang Belanda terhadap gadis Jawa mulai berubah. Selain itu, RA Kartini juga menjadi inspirator bagi mereka untuk melahirkan kebangkitan nasional. Bahkan ada lagu yang dikhususkan untuk RA Kartini yang dibuat oleh WR Soepratman, dan lagu itulah yang sering dinyanyikan saat tanggal kelahiran beliau.

Beberapa tahun setelah Hari Kemerdekaan Indonesia tepatnnya di tahun 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan SK. Surat keputusan tersebut berisi penetapan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, dan pada saat itu pula tanggal kelahirannya diperingati sebagai hari Kartini.

Setelah membaca mengenai biografi RA Kartini di atas, setidaknya kita berhasil mengetahui sebanyak apa perjuangan beliau untuk melawan diskriminasi yang didapat oleh wanita Jawa. Saat itu pula wanita sangat dibedakan dari kaum laki-laki, mulai dari cara berpikir sampai pendidikan pun dibatasi.

Menurut biografi RA Kartini, beliau merupakan pribadi yang sederhana dan mudah bergaul. Selain itu, meski berasal dari keluarga bangsawan dan memiliki suami bangsawan pula, RA Kartini tetap merakyat dan tidak berpangku tangan.

Salah satu sifat yang bisa kita contoh dari pribadi seorang RA Kartini adalah berani dan optimis. Memperjuangkan emansipasi wanita bukanlah hal yang mudah mengingat pemikiran wanita saat itu sangat rendah. Hal inilah yang membuat RA Kartini sering ditentang karena memiliki pemikiran yang berbeda.

Oleh sebab itu untuk menghilangkan mindset tersebut, RA Kartini mendirikan sekolah khusus wanita setelah menikah. RA Kartini juga percaya bahwa apa yang dia lakukan saat ini akan berdampak besar pada pola pikir wanita di masa depan, khususnya perempuan Indonesia.

BACA JUGA!

Sejarah Singkat Tentang Peninggalan Kerajaan Banjar

Putri
Putri
SEO Content "Wherever life plants you, bloom with grace."
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

ARTIKEL LAINNYA

PEMESANAN:

Beras Organik RICE ME UP