Biografi dan Jejak Sejarah Ki Hajar Dewantara

0
22920 Ki Hajar Dewantara Edukasi Kompas
Source: Edukasi Kompas

Nama Ki Hajar Dewantara telah diagungkan dalam dunia pendidikan. Apalagi jika kita menilik kiprah beliau saat masa penjajahan masih berlangsung. Ki Hajar Dewantara mengusung pandangan revolusioner di bidang pendidikan dan Kebudayaan dan sempat menjadi menteri pendidikan pada masa itu. Sampai saat ini, nama Ki Hajar Dewantara masih sering dibahas dan dijadikan salah satu materi dalam pendidikan untuk dikaji dan didalami.

Dengan mengetahui latar belakang beliau beserta jejak sejarah yang ditulis, maka diharapkan akan lahir Ki Hajar Dewantara yang selanjutnya. Dalam tulisannya bisa membuktikan bagaimana kerasnya beliau menyingkirkan pemikiran kolonialisme Belanda yang memang pada saat itu juga mendirikan beberapa sekolah.

Biografi Ki Hajar Dewantara


22920 Ki Hajar Dewantara Edukasi Kompas
Source: Edukasi Kompas

Orang dengan nama asli Raden Mas Suwardi Suryadiningrat ini lahir pada tanggal 2 Mei 1889, tepatnya pada hari Kamis Legi. Seperti namanya, Suwardi memanglah berasal dari keluarga bangsawan dari pasangan suami istri KPA Suryaningrat den R.A Sandiah. Masa kecilnya, Suwardi memiliki sebuah julukan yaitu Denmas Jemblung karena perut buncitnya.

Dengan berlatar belakang seorang anak bangsawan, maka Suwardi berhasil mengenyam pendidikan tinggi, yaitu di ELS, yang merupakan salah satu sekolah pendirian Belanda yang saat itu terletak di Yogyakarta. Setelah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut Suwardi melanjutkan pendidikannya di sekolah guru Yogyakarta, yang kemudian membawanya pada beasiswa STOVIA sebagai mahasiswa kedokteran. Namun dikarenakan ada hal yang membuatnya vakum selama 4 bulan sebab sakit, membuat beasiswa tersebut dicabut.

Ketika Suwardi bersekolah di STOVIA dia pernah dianggap sebagai pembangkit paham radikal melawan pemerintahan Belanda.

Memberontak Lewat Tulisan


22920 Als Ik Eens Nederlander Was Ki Hajar Dewantara
Source: Republika

Akibat tercabutnya beasiswa kedokterannya, Suwardi sama sekali tidak putus asa, karena Suwardi percaya bahwa untuk memperjuangkan Indonesia tidak hanya lewat kedokteran. Akhirnya hal tersebut mulai membuatnya aktif dalam sebuah organisasi yang bernama Budi Utomo yang berdiri di tahun 1908. Beliau juga ikut menggalakkan berbagai propaganda untuk kebangkitan Nasional.

Tidak hanya itu Suwardi juga merupakan seorang jurnalis pada surat kabar Sedyotomo, sehingga lewat beberapa tulisannya ia pun berjuang melawan kolonialisme Belanda saat itu. Pada tahun 1912 menjadi pengasuh Harian De Express disebabkan oleh tulisannya yang selalu bagus. Yang menjadi judul pertama dalam tulisannya kala itu adalah “Kemerdekaan Indonesia”.

Beberapa tulisannya juga memuat komentar pedas untuk pemerintahan kala itu, sebut saja dalam karyanya yang berjudul Als ik eens Nederlander was yang artinya seandainya aku seorang Belanda. Kritiknya adalah sebagai berikut:

“Apabila saya ini menjadi orang Belanda, maka tidak akan saya adakan banyak pesta kemerdekaan pada negeri yang bahkan kemerdekaannya telah kita rampas. Pemikiran tersebut bukan hanya tidak adil, tapi tidak pantas pula apabila si inlander harus disuruh untuk menyumbang dana perayaan. Bahkan dengan sebuah ide perayaan tersebut saja sudah menghina, lalu saat ini kita keruk pula kantongnya”

Tulisan tersebut masih berlanjut cukup panjang, dan setelah penerbitan, maka bulletin penerbitan segera dicabut izin terbitnya.

Kiprahnya dalam Pendidikan


22920 Ki Hajar Dewantara MyEdisi
Source: MyEdisi

Di masa penjajah Belanda Ki Hajar Dewantara sering kali mendapat sorotan sebab tulisan-tulisannya yang kontroversial. Bahkan beliau juga pernah mendekam di penjara sebab sepak terjangnya itu. Setelah berpikir kembali maka Suwardi memutuskan untuk keluar dari dunia politik dan beralih memperjuangkan Indonesia melalui jalur pendidikan dengan mendirikan Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa.

Sekolah ini berdiri pada tahun 1922 tepatnya pada tanggal 3 Juli, dimana sekolah tersebut memiliki misi untuk ikut memajukan kehidupan bangsa. Selanjutnya sekolah inilah yang menjadi tonggak perjuangan pendidikan dan kebangkitan awal masyarakat terpelajar untuk melawan kolonialisme.

Salah satu pemikiran nasional tentang pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara adalah kemerdekaan Indonesia secara lahir dan batin, hidup selamat dan berbahagia, dengan membangun masyarakat yang tertib dan bahagia. Oleh sebab kiprahnya dalam dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi menteri pendidikan pertama pada tahun 1945.

Sampai saat ini Ki Hajar Dewantara masih dikenang sebagai pahlawan nasional. Tercatat dalam sejarah bahwa Ki Hajar Dewantara meninggal pada tanggal 2 April 1959 di usia 70 tahun. Untuk menghargai jasanya, tepat pada hari kelahiran Ki Hajar Dewantara diperingati sebagai hari pendidikan nasional dan namanya pun masih sering disebut di banyak kesempatan.

Biografi dan jejak sejarah mengenai Ki Hajar Dewantara di atas menjadi renungan bagi kita bahwa pendidikan memanglah sangat penting. Selain untuk terlepas dari belenggu kebodohan, dengan pendidikan kita bisa membawa dunia ke arah yang lebih baik. Hal ini dikarenakan dengan banyaknya teknologi baru yang muncul dan akses mudah mengenai apapun yang bisa dicari lewat internet. Terkadang banyak yang menyalahgunakan ilmu pengetahuan sebagai ajang membesarkan diri, padahal sudah dari dulu ilmu pengetahuan dan pendidikan yang tinggi harus dibentengi dengan iman dan taqwa agar tidak tersesat.

BACA JUGA!

Biografi KH Ahmad Dahlan