Religi

Ucapan Hari Raya ‘Idul Fitri yang Benar Sesuai Sunnah

Sekarang ini kita umat muslim sudah masuk pada bulan yang suci yaitu bulan ramadhan. Bulan dimana kita diwajibkan untuk berpuasa selama kurang lebih 30 hari dan diakhiri dengan hari kemenangan Islam pada 1 syawal yaitu hari raya ‘Idul Fitri. Untuk mempersiapkan hari yang istimewa tersebut tentu banyak orang yang mengucapkan selamat terhadap teman, sahabat, kerabat, dan saudaranya. Biasanya orang-orang mengucapkan selamat dengan ucapan “minal aidzin wal fa idzin” namun dalam Islam sudah di contohkan bahwa ucapan selamat hari raya ‘Idul Fitri bukanlah itu. Melainkan:

“Taqobbalallahu minna wa minkum”

“Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian”

Hal ini telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat di hari raya di antara mereka dengan ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.

وَقَالَ حَرْبٌ : سُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ قَوْلِ النَّاسِ فِي الْعِيدَيْنِ تَقَبَّلَ اللَّهُ وَمِنْكُمْ .قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، يَرْوِيه أَهْلُ الشَّامِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قِيلَ : وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ ؟ قَالَ : نَعَمْ .قِيلَ : فَلَا تُكْرَهُ أَنْ يُقَالَ هَذَا يَوْمَ الْعِيدِ .قَالَ : لَا .

Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di hari raya ‘ied (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha), apakah dengan ucapan, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak mengapa mengucapkan seperti itu.” Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.

وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي تَهْنِئَةِ الْعِيدِ أَحَادِيثَ ، مِنْهَا ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ زِيَادٍ ، قَالَ : كُنْت مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .وَقَالَ أَحْمَدُ : إسْنَادُ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ إسْنَادٌ جَيِّدٌ .

Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya ‘ied. Di antara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari ‘ied (yakni shalat ‘ied, pen), satu sama lain di antara mereka mengucapkan, ‘Taqobbalallahu minna wa minka” Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid.

Pada zaman dahul mengucapkan selamat apada hari raya ‘Idul Fitri tidaklah wajib, namun tidak juga dilarang. Jadi intinya yang mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan siapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah(contoh).

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum mengucapkan selamat pada hari raya. Dan Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya ‘ied dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”

Hukum Berjabat Tangan Saat Selesai Shalat ‘Ied

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum berjabat tangan dan berpelukan serta saling mengucapkan selamat pada saat usai melaksanakan shalt ied. Dan beliau menjawab “Perbuatan itu semua dibolehkan. Karena orang-orang tidaklah menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk pendekatan diri pada Allah. Ini hanyalah dilakukan dalam rangka ‘adat (kebiasaan), memuliakan dan penghormatan. Selama itu hanyalah adat (kebiasaan) yang tidak ada dalil yang melarangnya, maka itu asalnya boleh. Sebagaimana para ulama katakan, ‘Hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Sedangkan ibadah itu terlarang dilakukan kecuali jika sudah ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya”

Dari penjelasan di atas maka kita bisa simpulkan bahwa melakukan jabat tangan, saling berpelukan, dan mengucapkan selamat itu diperbolehkan. Namun, kita perlu tahu batasan-batasan seperti batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya. Untuk ucapannya kita dibebaskan menggunakan ucapan seperti apa.

Ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin”

Ucapan satu ini merupakan ucapan yang keliru jika digunakan sebagai ucapan selamat pada hari raya ‘Idul Fitri. Ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin” ini memiliki makna “kita kembali dan meraih kemenangan”. Dari maknanya kita bisa lihat kalimat itu memiliki makna yang rancu. Lebih baik kamu hindari ucapan tersebut dan jika ingin mengucapkan selamat pada hari raya ‘Idul Fitri maka gunakan “Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian)” yang maknanya sudah jelas.

Ucapan “Mohon Maaf Lahir Batin”

Satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa tidak adanya pengkhususan untuk saling minta maaf di ‘Idul Fitri. Sering kita dengar ucapan seperti “Mohon Maaf Lahir dan Batin” saat ‘Idul Fitri. Kamu mungkin sempat berfikir bahwa ‘Idul Fitri adalah waktu khusus untuk saling memaafkan. Pemikiran seperti itu tentu salah, ‘Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling memaafkan. Waktu untuk saling memaafkan itu sangatlah luas. Kapanpun kamu bisa meminta maaf dan memaafkan. Bahkan setelah melakukan kesalahan kita dianjurkan untuk segera minta maaf bukan malah menunggu moment ‘Idul Fitri untuk meminta maaf. (elevenia)

Leave a Reply