Media Room

TIGA WANITA BICARA INDUSTRI DIGITAL

elevenia #4

Digital Agency, Digital Entrepreneur, dan E-Commerce

 

Jakarta, 26 April 2017 – Dunia digital sudah tidak asing lagi bagi para wanita di Indonesia. Faktanya, kini mulai bermunculan kiprah wanita di industri digital. Terinspirasi dengan semangat dan kekuatan seorang Kartini yang tidak akan pernah pupus, dan sekarang pun terbuka juga peluang untuk banyak wanita terlibat dalam dunia industri digital Indonesia, seperti menjadi seller dalam e-commerce, digital entrepreneur, atau pendiri start-up.

Masih dalam semangat bulan Kartini, elevenia, e-commerce yang mengusung open market place di Indonesia mengadakan diskusi Wanita Bicara tentang Industri Digital dari Tiga Sudut Pandang bersama CEO ThinkWeb dan Pendiri Girls In Tech Anantya Van Bronckhorst, Pendiri Berrykitchen.com Cynthia Tenggara, serta Chief Finance Officer (CFO) elevenia Lila Nirmandari.

Berkembangnya teknologi saat ini membuat masyarakat harus berusaha untuk bisa mengikuti perkembangannya atau melek akan teknologi. Teknologi menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar dan membantu memudahkan segala aktivitas manusia. Keunggulan teknologi ini menjadi peluang yang dilihat oleh para pebisnis karena memungkinkan terjadi pertukaran atau transaksi yang cepat melalui internet sebagai media dalam melakukan transaksi bisnis atau yang lebih sering dikenal sebagai e-commerce.

Hingga saat ini peluang bisnis berbasis electronic commerce atau e-commerce di Indonesia masih terbuka lebar, prospeknya sangat menjanjikan dan diproyeksikan menjadi terbesar di ASEAN pada 2020 seiring dengan meningkatnya pengguna internet. Perkembangannya telah menciptakan banyak peluang bagi para pebisnis yang ingin terjun ke dunia jual beli berbasis digital ini, termasuk peluang bagi kaum wanita berkiprah di dunia industri digital.

Di era digital ini, teknologi sangat membantu wanita untuk berkembang. Seperti yang diungkapkan Chief Financel Officer (CFO) elevenia, Lila Nirmandari “Mengikuti tren dunia, belanja online pun makin marak di Indonesia. Menurut survei, sebagian besar pembeli online adalah perempuan (58%) dengan komoditas yang paling banyak terjual adalah busana termasuk pakaian dan sepatu (71,6%), kosmetik (20%) dan gagdet (17,1%). Data tersebut menunjukkan betapa besarnya potensi bisnis online terutama bagi perempuan. Sayangnya data lain menyebutkan bahwa perempuan yang berjualan online masih kurang dibandingkan laki-laki. Hanya sekitar 23% penjual online adalah perempuan. Padahal 60% penggerak UKM adalah perempuan namun yang memanfaatkan dunia maya tidak lebih dari setengahnya.”

Senada dengan Anantya Van Bronckhorst yang 2007 lalu mendirikan Think.Web, yaitu sebuah agensi digital yang bergerak dalam bidang konsultasi pengembangan bagi klien yang ingin memperluas usaha ke dunia digital, mengutarakan; “Teknologi dan digital adalah industri masa depan, ini kenapa penting buat perempuan untuk mempelajari dan mengerti teknologi. Penetrasi digital masih 50% dan ini berarti peluang growth masih sangat besar, hampir di semua aspek yang terkait dengan industri. Dengan masih terbukanya peluang, ruang untuk kita bisa menjadi expert di bidang digital atau menciptakan lapangan kerja sendiri juga masih sangat besar.”

Salah satu pemain digitalpreneur, Cynthia Tenggara yang memulai start-up Berrykitchen.com pada penghujung tahun 2012 menuturkan “Menjadi ibu dan sekaligus enterpreneur adalah perjalanan yang penuh tantangan. Ketika awal membangun bisnis ini, beragam tantangan saya hadapi antara lain banyak yang tidak percaya dengan ide bisnis katering makanan melalui website. Namun kini telah berubah, dunia digital semakin dekat dengan masyarakat dan kepercayaan pun mulai meningkat dalam industri ini. Saya melihat ini menjadi peluang bagi wanita yang ingin berkiprah di dunia entrepreneur, baik itu melalui website maupun market place e-commerce”.

Berdasarkan sebuah artikel di Forbes di tahun 2015 menyatakan, sebanyak 80% investasi diberikan kepada perusahaan teknologi yang didirikan atau dipimpin oleh pria. Sisanya, sebesar 20%, baru diperuntukkan bagi perusahaan yang dipimpin atau didirikan oleh wanita. Di tahun yang sama, Silicon Valley juga melakukan riset dan menyebutkan bahwa hanya ada 6,5% perusahaan yang dipimpin oleh wanita dan 1,3% perusahaan yang didirikan oleh wanita.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Lila Nirmandari mengungkapkan “Saya optimis peranan dan kiprah wanita akan terus meningkat setiap tahunnya di dunia industri digital ini. Kini telah bermunculan Kartini dalam industri digital seperti Anantya Van Bronckhorst dan Cynthia Tenggara. Sementara di elevenia, wanita yang terlibat sebagai seller pun selalu meningkat setiap tahunnya. Ini menunjukkan peluang wanita dalam industri digital ini masih besar”.

Angkie Yudistia, pemilik usaha Thisable yang mempercayakan bisnisnya di elevenia mengungkapkan “Saya percaya keterbatasan saya justru tidak menjadi batasan untuk saya terus berkarya. Bersama wanita lain di Thisable, kami ingin berkarya dan dirasakan manfaat produknya oleh masyarakat luas. Di tahun 2013 saya memulai Thisable, dan saya menyadari perkembangan tekonologi ketika menggunakan e-commerce elevenia ini sangat membantu memasarkan produk saya hingga seluruh Indonesia.”

“Karakter wanita yang sabar, berempati, pandai berkomunikasi dan menjalin jaringan, serta multitasking atau mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus menjadi nilai lebih bagi mereka untuk sukses menjadi pemimpin ataupun sukses dalam berkarir. Melihat perbincangan wanita bicara dari tiga industri berbeda ini, membuat kami optimis bahwa akan lebih banyak wanita Indonesia yang kreatif dan berkarya dalam dunia industri digital”, tutup Lila Nirmandari.

Share

Leave a Reply