Edukasi

Mengenal Lebih dalam Tentang Budaya Jepang – Samurai

Jangan Lupa Share ya

Budaya Jepang harus diakui memiliki keunikan sendiri. Terlahir dari cerita perjalanan yang panjang masa-masa kekaisaran, budaya Jepang menjelma jadi primadona pariwisata sendiri di dunia ini. Di mata para wisatawan, budaya Jepang menjadi daya tarik utama.

Sebagai sebuah negara maju, Jepang nyatanya masih tidak meninggalkan gaya hidup yang penuh dengan filosofi dan budaya. Di tengah maraknya berbagai penemuan fenomenal yang lahir dari warganya, budaya Jepang terus mengalir seperti air yang membasahi setiap seluk beluk kehidupan warganya.

Jangan tanyakan tentang kepedulian masyarakat sebuah negara terhadap kebudayaan negaranya. Jawabannya pasti sangat peduli. Begitupun dengan masyarakat Jepang terhadap budaya Jepang. Mereka seolah telah menyediakan tempat tersendiri untuk kebudayaan negaranya. Bersandingan dengan kemajuan teknologi yang banyak lahir dari negaranya tersebut.

Budaya Jepang memiliki  banyak sekali variasi. Kehidupan masyarakatnya sehari-hari juga sudah merupakan salah satu bentuk budaya Jepang yang paling sederhana. Budaya Jepang yang lebih kompleks pun sangat banyak, mulai dari makanan khas Jepang, rumah adat, pakaian adat, tarian, bahasa Jepang, dan satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari budaya Jepang adalah samurai.

Samurai sangat identik dengan negara matahari terbit ini. Namun, sayangnya, keterkenalan samurai di kalangan masyarakat dunia atau Indonesia tidak diikuti dengan informasi yang berisi kebenaran tentang samurai ini. Budaya Jepang yang satu ini pun hanya sedikit dimengerti betul oleh masyarakat.

Kita sering salah memahami kata samurai dengan mengartikannya sebagai nama jenis senjata dalam budaya Jepang. Padahal samurai merujuk pada orang atau jalan hidup. Sedangkan senjata sejenis pedang yang selama ini banyak diartikan sebagai samurai, sebenarnya adalah katana. Dalam budaya Jepang, Katana merupakan senjata khas para samurai berbentuk pedang.

Bukan Samurai tapi Katana


Dalam budaya Jepang, istilah samurai pada awalnya digunakan untuk menyebut orang yang mengabdi kepada bangsawan. Berawal dari kata “saburau” yang populer pada zaman Nara (710-784), yang pengucapannya bergeser menjadi saburai.

Pada zaman Kamamura abad ke-12 dalam budaya Jepang, arti kata saburai bersisian dengan “bushi”, yang berarti: orang yang dipersenjatai. Lantas, kata saburai berubah menjadi samurai pada zaman Azuchi-Momoyama (1573-1600) dan awal zaman Edo (1603), yang memiliki arti “orang yang mengabdi”.

Budaya Jepang juga diisi dengan berbagai cerita sejarah yang menarik. Dahulu, pertempuran yang berkepanjangan  menimbulkan kematian di kalangan penguasa sehingga banyak samurai kehilangan tuannya. Mereka menjadi sekelompok samurai liar dan tidak terikat yang disebut dengan istilah ronin. Istilah ini muncul pertama kali pada zaman Muromachi (1392), dan semakin definitif pada zaman Edo (1603-1867).

Samurai memiliki posisi unik dalam struktur kekuasaan Jepang masa lalu. Berawal dari kekacauan politik akibat pajak yang berat dan memicu pemberontakan di banyak tempat, penjarahan terhadap tuan tanah, memaksa mereka mempersenjatai keluarga dan para petani, dari sini nanti lahir kelas samurai dalam budaya Jepang.

Pada masa Hojo (1199-1336), ajaran Zen berkembang di kalangan samurai, dan menjadi gerakan massal yang melahirkan ciri bahwa para samurai menganut paham keseimbangan dalam falsafah hidup mereka. Dalam budaya Jepang, para samurai mendapatkan tempat yang istimewa di kalangan masyarakat.

Filosofi Kematian dalam Samurai


Dalam budaya Jepang, samurai memiliki pandangan unik tentang kematian. Menjelang peperangan Hakagure, seorang tokoh samurai menulis buku berjudul Hakagure, yang menjadi rujukan awal filosofi kematian. Pada bagian pendahuluan buku ini tertulis: “Jalan Samurai ditemui dalam kematian. Apabila tiba kepada kematian, yang ada hanya pilihan yang pantas untuk kematian.”

Kalimat yang bias dan multitafsir pada buku tersebut diduga telah membawa panji samurai ke arah kemelaratan dan kesesatan. Buku tersebut melahirkan budaya Jepang, khususnya budaya dikalangan samurai tentang cara kematian yang dipilih, yaitu:

  1. Mati di medan pertempuran adalah cara yang paling terhormat. Para samurai menyukai mati di dalam pertempuran daripada tertangkap musuh.
  2. Seppuku, adalah tindakan bunuh diri dengan cara menyobek perut. Seppuku sangat populer dalam mitos samurai. Seppuku dianggap sebagai tindakan gagah berani.
  3. Junshi; adalah seppuku yang dilakukan sebagai tanda kesetiaan kepada raja, sebagaimana dilakukan Jeneral Nogi Maresue semasa Maharaja Meiji. Junshi dinilai merugikan negara sehingga sempat dilarang pada zaman Edo.
  4. Sokotsu-shi, adalah seppuku yang dilakukan untuk menebus kesalahan. Jenderal Yamamoto Kansuke Haruyuki (1501-1561) melakukan sokotsu-shi karena membuat kesalahan fatal yang menyebabkan Kaisar Takeda berada dalam bahaya.

Setelah kurun yang lama, dalam budaya Jepang sekaligus budaya samurai mengenai pandangan tentang bunuh diri sebagai tindakan terhormat mengalami pergeseran dan mulai dianggap sebagai tindakan yang sia-sia.

Filosofi Samurai


Sama seperti jenis budaya Jepang yang lain, samurai memiliki sebuah filosofi. Filosofi yang dimiliki samurai terletak pada seragam kebesaran dengan simbol bulan sabit di atas helm. Jalan hidup samurai yang mengambil inti ajaran Zen, menekankan bahwa ketenangan jiwa dan keyakinan hati adalah sumber kehidupan.

Hal mendasar adalah ajaran menjunjung tinggi kejujuran. Jujur kepada diri sendiri dan orang lain. Karena itu, berbohong adalah aib yang tak mungkin ditanggung. Budaya Jepang yang seperti itu tampaknya harus diamini oleh semua masyarakat tanpa terkecuali.

Bunga sakura simbol samurai mengandung muatan filosofis pentingnya menghargai waktu. Sebab, sakura hanya bersemi dan berbunga dalam waktu singkat seperti umur manusia. Karena itu, tidak boleh ada penyesalan di dalamnya.

Dalam budaya Jepang dijelaskan bahwa samurai juga menjunjung tinggi nilai keadilan. Kenshin Uesugi, tokoh samurai, menolak ambil bagian dalam sebuah pertarungan jika tidak melihat ada keadilan di dalamnya.

Bagi samurai, pertempuran adalah sesuatu yang sakral. Ada etika ketat dalam pertempuran samurai, yaitu:

  • Tidak boleh menyerang dari belakang.
  • Harus dilakukan dengan keindahan dan harga diri.
  • Harus dilakukan sampai tuntas.
  • Pedang adalah simbol spiritual dan komitmen.

Samurai tanpa Pedang


Dalam budaya Jepang ada seorang tokoh samurai bernama Toyotami Hideyoshi, pemimpin legendaris Jepang abad ke-16. Dia  dianggap tokoh fenomenal yang mengembangkan paham samurai tanpa pedang, berprinsip: “Prajurit terbaik tidak pernah menyerang, prajurit terhebat berhasil tanpa kekerasan, dan penakluk terbesar menang tanpa perang.”

Dalam budaya Jepang, Hideyoshi (1536-1598) mampu menyatukan Jepang pada masa paling krusial, perang antar-klan, dan mewariskan falsafah kepemimpinan yang tetap relevan hingga zaman modern. Ia terlahir dari kalangan petani miskin di Provinsi Owari, dengan nama Nakamura. Perawakannya kecil, mukanya jelek sehingga sering disebut “wajah monyet,” dan tidak berpendidikan.

Pandangan Hideyoshi kemudian diamini oleh banyak tokoh samurai lainnya.  Singen Harunobu Takeda mengatakan “Memenangkan ratusan peperangan bukanlah kebanggaan. Tapi, kemenangan tanpa peperangan adalah kebanggaan yang sesungguhnya.”

Ditambah lagi dengan Miyamoto Musashi, samurai terbesar dalam sejarah, mengatakan bahwa, “Jurus tertinggi ilmu pedangku adalah ketiadaan.”  Inilah inti yang sesungguhnya, bahwa kekuatan utama bukanlah pada fisik, tetapi hati. Maka, kejujuran dan sikap melindungi adalah filosofi sesungguhnya dari jalan samurai. Bahwa sebagai budaya Jepang, samurai tidak lagi selalu identik dengan penggunaan pedang yang membabi buta dan tanpa alasan yang jelas.

Jangan Lupa Share ya

Leave a Reply